Bagi manusia yang selalu berpikir, tak ada suatu musibah yang tak dapat ditarik hikmahnya, tak terkecuali musibah kemanusiaan seperti penyakit HIV dan AIDS.
Alkisah, seorang wanita Muslimah yang cantik dipersilakan ke podium untuk menceritakan kisah sedihnya setelah terlibat, terlena, dan terbuai dalam bercinta. Muslimah Arab Lebanon itu bercerita, sudah 13 tahun dia melalui malam jahanam itu hingga akhirnya mengidap penyakit AIDS yang dapat mematikan.
Setelah mendengar diagnosa dokter, dia adalah orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Betapa sebuah titik hitam dalam bercinta telah menghancurkan roda perjalanan sejarah hidupnya.
Namun, wanita ini adalah wanita "istimewa". Namanya Aminah. Muslimah terdidik ini merasakan saat dia sadar sebagai ODHA, ia haruslah dekat dengan Allah. Dia sujud menangis kepada Allah dan berdoa, "Wahai Allah yang Rahman dan Rahim, rahmati aku dalam deritaku".
Setelah beberapa tahun menjadi ODHA, Muslimah cantik dari Lebanon itu menghadap dua imam. Pertama dengan seorang imam tua yang tidak mengerti tentang apa itu ODHA dan kenapa HIV itu kemudian menjadi AIDS. Imam tua itu menyampaikan kata-kata yang kurang menyejukkan kepada Muslimah cantik dari Lebanon itu.
Merasa petuah dari imam tua itu kurang menyentuh, wanita Muslimah itu kemudian menghadap kepada imam muda yang lebih berilmu dan memberinya kalimat penuh harapan.
Kata imam muda itu, "Tuhan sayang kepadamu Saudari, Dia menguji dan menegurmu." Dengan penuh terharu, Muslimah cantik yang terkena HIV dan AIDS itu berkata, "Perubahan spiritual di dada membuat aku makin dekat dengan Allah yang Maha Penyayang dan Penerima Tobat. Aku makin merasakan derita kaum duafa, yatim, dan piatu. Sebagian gajiku kuberikan kepada ODHA yang sama menderita dan keadaan ekonominya sangat lemah." Kini, Muslimah dari Lebanon itu menjadi aktivis dalam membantu penderita narkoba dan HIV/AIDS.
Kisah sedih Muslimah Lebanon yang cantik itu membuat ruang perpustakaan di Istana Windsor, tempat 25 tokoh agama dari Islam dan Kristen berdiskusi, terasa amat sunyi. Semua tokoh agama Islam dan tokoh agama Kristen itu matanya berkaca-kaca karena tersentuh mendengar kisah itu. Semua tertunduk. Cobaan hidup manusia sama saja dan menimpa siapa saja, apakah dia orang Islam atau Kristen.
Kebaikan dan kesengsaraan
Pertemuan konsultasi selama tiga hari yang dihadiri 25 tokoh Islam dan Kristen di London itu terasa lebih senyap lagi ketika seorang laki-laki muda berpakaian pendeta mengatakan bahwa dia telah hidup sebagai ODHA lebih kurang 10 tahun.
Sejak Afrika dilanda epidemi HIV dan AIDS, pendeta muda aktif ini mengurus yatim piatu dari orangtua yang telah direnggut nyawanya karena AIDS sehingga pendeta muda itu menjadi korban dari HIV dan AIDS.
Para tokoh agama Islam dan Kristen itu kaget saat sang pendeta muda menyebutkan bahwa tidak semua ODHA karena perbuatan dosa mereka.
Dalam era globalisasi dan global village ini, tokoh-tokoh agama Islam maupun Kristen sering kali berpangku tangan melihat derita manusia. Kaum agamawan harus bangkit bersama-sama menghadapi wabah HIV dan AIDS.
Syaikul Azhar Thantawy, Qardawy, dan tokoh Kristen (pastor) Desmon Tutu mengemukakan, marilah semua kaum agamawan bangkit untuk mengajak umat manusia berupaya menghadang dan melawan penyakit HIV dan AIDS dengan bergerak secara progresif, tak hanya lewat kata- kata dakwah tapi bergerak langsung memberikan penyuluhan dan penyadaran.
Dunia ilmu pengetahuan yang makin berkurang sekularnya ini mengharapkan bantuan dari tokoh-tokoh agama untuk menghadapi penyakit HIV dan AIDS. Penyakit HIV dan AIDS tak hanya mengenai orang-orang yang tidak mengenal agama atau orang yang tak dekat dengan agama. Kini, tokoh-tokoh agama pun juga dapat dihinggapi HIV dan AIDS.
Teologi hadapi HIV/AIDS
ODHA, orang dengan HIV dan AIDS, adalah contoh yang dapat menyentuh rasa kemanusiaan dan rasa keagamaan kita. Dalam pertemuan tokoh-tokoh agama di Tanah Air Indonesia, sering ditampilkan ODHA yang ternyata adalah keluarga dari tokoh-tokoh agama yang terkenal.
Ternyata generasi muda itu adalah penderita narkoba dan kemudian ketularan HIV melalui jarum suntik yang tidak steril, dan setelah lebih kurang 10 tahun jatuh menjadi penderita AIDS.
Di era global, ragam penyakit telah menyerang manusia, seperti HIV dan AIDS, flu burung, dan infeksi menular seksual (IMS). Pada penyakit IMS, dalam sejarah masyarakat Barat 1960-1970, IMS atau STD (sexual transmissible disease) meningkat terutama oleh dua faktor: usia lebih muda dalam aktivitas seksual dan partner seksual ABG (anak baru gede/remaja) bertambah.
Tahun 1962, Prof Carstairs, seorang profesor di bidang psychological medicine dari Edinburgh, mengamati perubahan masyarakat di Inggris, perubahan peran wanita dalam sexual behavior dan hilangnya chastity as supreme moral value. Sexual revolution atau lebih-lebih bed olympics telah mengubah Amerika Serikat, dan ini menjalar ke seluruh pojok bumi.
Ternyata, changing culture (berganti-ganti pasangan) cukup besar pengaruhnya pada peningkatan IMS dalam masyarakat. Dalam buku Sexually Transmissible Infection (A Millan, Saunders, 2002), membuat kita termenung dan berpikir tentang permissive society (masyarakat semau gue).
Menghadapi masa depan generasi global dan nasib anak bangsa, anak cucu kita, selaku dokter dan agamawan, izinkan saya mengulang ucapan filosof kontemporer Toward: Where, we are heading for ?
Saat ini Indonesia mencatat lebih kurang 10 juta pelanggan hubungan seksual (di luar perkawinan) dalam masyarakat kita yang "agamis". Tetapi, kok berat untuk diselesaikan? Apa penyebabnya?
Ternyata itu disebabkan kemiskinan. Bukan hanya miskin harta, tapi juga miskin spiritual. Maka, bagi orang Indonesia, di tengah kemajuan pembangunan yang dicapai, dengan kemiskinan struktural dan kemiskinan warisan, akan lebih berat menghadapi penyakit-penyakit itu.
Peran kaum agamawan tentunya lebih menonjol di bidang preventif, akhlak, moral, dan etik dari generasi muda kita. Makin besar dan tingginya intensitas keluarga atau rumah tangga yang mengalami disfungsi, akan memperlebar gap antargenerasi yang setiap hari melihat broken homes di tengah rumah tangga.
Disfungsional rumah tangga di Indonesia belum sebesar rumah tangga Barat, tetapi televisi dan media massa cetak lebih banyak memperluas tersebarnya suatu berita negatif dalam waktu yang relatif singkat.
Kalangan agamawan Islam dan Kristen sama-sama menyatakan bahwa penderita HIV dan AIDS terkena perbuatan dosanya. Namun, setelah melihat dan mendengar kisah ODHA itu secara langsung, semua kami terenyuh. Betapa mereka harus berjuang dalam keluarganya, dikucilkan, dan diberhentikan dari pekerjaan serta dianggap "sampah" dalam masyarakat.
Dikucilkan, diberhentikan, dan dianggap sampah masyarakat adalah stigma yang dialami ODHA pada masyarakat (Islam maupun Kristen). Kalau Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan penyakit sebagai penggugur dosa manusia.
Krisis kemanusiaan
Dalam era globalisasi dan global village ini, manusia menghadapi keadaan dilematis, yaitu kebangkitan kembali nilai agama (revival of religions) dan sekaligus manusia saling membunuh atas nama agama. Sebenarnya, agama tidak salah, tetapi yang bersalah adalah manusia yang begitu berani membawa "nama Tuhan" untuk membunuh orang (teroris).
Kita harus berpikir lebih dalam, yaitu modernisasi yang diharapkan membawa manusia hidup lebih bahagia ternyata hanya membawa kita hidup lebih enak atau lebih comfort (nyaman), namun tak banyak bahagia. UNAIDS telah melihat potensi agama untuk melawan HIV dan AIDS dan peranan tokoh dalam masyarakat dan budaya masing-masing. Kira-kira dua dekade dunia telah bergelut menghadapi narkoba, HIV, dan AIDS, namun belum sukses melawan HIV dan AIDS.
Bukankah agama ujung- ujungnya harus mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan? Siapa yang membuat agama menjadi begitu kejam? Bukankah kekejaman itu terjadi akibat ulah manusia sendiri? Hanya Dia yang tahu. Mari kita ambil hikmah atas semakin banyaknya wabah penyakit yang menyerang umat manusia. Dan, diperlukan kerja sama antara tokoh agama dalam menghadapi penyakit-penyakit itu, terutama HIV dan AIDS.
Sumber : KH DR Tarmizi Taher Rektor Universitas Azzahra dan Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Muslim (CMM) dan berbagai Sumber lainnya